“Suku Donggo” Sejarah & ( Bahasa – Kekerabatan – Mata Pencaharian – Agama – Kepercayaan )

Posted on

“Suku Donggo” Sejarah & ( Bahasa – Kekerabatan – Mata Pencaharian – Agama – Kepercayaan )

GuruPendidikan.Com – Orang Donggo ialah salah satu kelompok sosial merupakan penduduk asal yang berdiam di sebagian wilayah Kabupaten Dompu, dan wilayah Kabupaten Bima di Provinsi Nusa Tenggara Barat “NTB”, beberapa sumber tertulis menunjukkan bahwa wilayah asal mereka ini ialah di Kecamatan Donggo, Kabupaten Bima, serta empat wilayah kecamatan di Kabupaten Dompu, yaitu Kecamatan Huu, Dompu, Kempo dan Kilo. Wilayah keempat Kecamatan ini memang berbatasan dengan Donggo tadi, orang Donggo menggunakan bahasa Mbojo seperti juga anggota suku bangsa Mbojo “Bima”.

Kekerabatan Suku Donggo

Kelompok kerabat keluarga batih ialah keluarga batih patrilineal, dalam keluarga batih seorang ayah sangat dihormati dan mempunyai kekuasaan yang lebih besar. Apabila terjadi perceraian maka anak-anak akan berada dipihak suami, sedangkan isteri dikembalikan kepada keluarganya dan hanya menerima benda-benda pusaka serta sebagian dari harta yang didapat sebelum bercerai.

Beberapa istilah kekerabatan dalam keluarga inti ialah ama untuk ayah, ina untuk ibu, wi untuk istri, rahi untuk suami, anak sulung ialah ulu, anak bungsi disebut cumpukai dan lain-lain. Satu keluarga yang anggotanya selain keluarga inti, tapi ada anggota kerabat lain, misalnya nenek, bibi atau kemenakan dan kelompok kerabat semacam ini disebut ngge’e la’bo.

Suatu kebiasaan mereka di masa lalu menjodohkan anaknya sejek masih kecil, dan rata-rata kawin muda. Seorang wanita sudah cukup syarat untuk kawin kalau sudah datang masa haid dan sudah pandai bertenun. Sekarang kebiasaan itu sudah banyak berubah. Pranata berpacaran agaknya tidak dikembangkan dalam masyarakat ini, kalau seseorang anak laki-laki menginginkan seseorang gadis ia langsung saja menyatakan keinginan itu kepada orang tuanya.

Orang tuanya akan melakukan peminangan, kalau pinangan itu diterima dan satu waktu mereka pun bertunangan. Kalau sudaha bertunangan maka si perjaka wajib mengabdi atau bekerja menolong calon mertuanya sampai tiba masa perkawinannya, mas kawin yang diminta ialah uang, rumah, kerbau dan ternak lainnya.

Daur hidup masyarakat ini antara lain sesudah melahirkan, sang bayi disusukan oleh saudara dekat dari yang bersalin itu, selama tujuh hari setelah melahirkan api di dapur tidak boleh mati. Setelah bayi berumur tujuh hari ada upacara pemberian nama “cafe sari”. Bagi mereka yang beragama Islam dilakukan sunatan baik untuk laki-laki maupun bagi anak perempuan.

Anak laki-laki disunat pada usia 5-6 tahun, dalam rangka sunatan ini masih juga dilakukan upacara berdasarkan tradisi setempat, misalnya acara mako yaitu memberi semangat kepada sang anak. Anak ini sambil memegang keris mengucapkan pantun-pantun tertentu dengan diiringi bunyi-bunyian seperti gendang.

Mata Pencaharian Suku Donggo

Sejak lama mereka melakukan pertanian ladang dengan sistem tebas bakar “ngoho” setelah pembakaran pohon yang ditebang dilaksanakan pembersihan sisa bakaran “boro”. Kemudian lahan itu siap untuk ditanami sambil menanti hujan, tetapi sebelumnya ada upacara raju untuk menentukan hari yang tepat untuk bertanam. Selanjutnya ada upacara kadaki yaitu pengusiran hama kalau tanaman itu sudah cukup besar dan sambil menanti datangnya masa panen. Pertanian sawah belum lama dikenal oleh masyarakat.

Kegiatan berburu sudah berakar lama dalam masyarakat ini. Berburu biasanya dilaksanakan dalam kelompok yang dilakukan seminggu atau sebulan sekali. Mereka juga melakukan perburuan massal setahun sekali. Pembagian hasil buruan tergantung kepada banyak sedikitnya tenaga dan jasa yang diberikan oleh seseorang. Namun kalau hasil buruannya cukup banyak maka daging buruan itu akan diberikan secara cuma-cuma kepada penduduk kampung. Hasil binatang buruan itu mereka tafsirkan pada hasil pertanian.

Apabila mereka banyak yang memperoleh kijang “maju” maka hasil pertanian diperkirakan akan kurang, sedangkan kalau mereka banyak memperoleh babi “wawi” maka mereka tafsirkan hasil pertanian akan melimpah. Ternak yang dipelihara ialah sapi, kuda, kambing, kerbau, ayam dan babi. Ukuran kekayaan pada masyarakat ini ialah luasnya sawah, ladang dan banyaknya ternak.

Agama Dan Kepercayaan Suku Donggo

Kini sebagian besar orang Donggo memeluk agama Islam dan sebagian lainnya beragama Kristen. Sebagian contoh dari 20.724 jiwa penduduk kecamatan Donggo pada tahun 1986 di antaranya 97% beragama Islam, 3% beragama Kristen.

Orang Donggo juga pernah mengenal dan mempercayai kekuatan gaib yaitu “Dewa Langit” (Dewa Langi). “Dewa Air” (Dewa Oi) dan “Dewa Angin” (Dewa Wango). Dewa langit tadi dulunya dianggap yang paling berkuasa dan berada diatas awan dan matahari. Dewan Angin tadi mereka puja kalau ada wabah penyakit, sedangkan Dewa Air kalau ada musim kemarau panjang yang mengancam tanaman mereka.

Demikianlah pembahasan mengenai “Suku Donggo” Sejarah & ( Bahasa – Kekerabatan – Mata Pencaharian – Agama – Kepercayaan ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Baca Juga: