Sejarah Gunung Raung Banyuwangi Dari Tahun 1586 – 2015

Aris Kurniawan

Sejarah Gunung Raung

Sejarah Gunung Raung Banyuwangi Dari Tahun 1586 – 2015– Gunung Raung (puncak tertinggi: 3.344 mdpl) adalah sebuah stratovolcano yang terletak di ujung timur pulau Jawa, Indonesia. Secara administratif, kawasan gunung ini, termasuk dalam wilayah tiga kabupaten di Besuki, Jawa Timur, yaitu Banyuwangi, Bondowoso, dan Jember.

Secara geografis, lokasi gunung ini terletak di area kompleks Gunung Ijen dan puncak tertinggi dari pegunungan. Dihitung dari titik tertinggi, Gunung Raung merupakan gunung tertinggi kedua setelah Gunung Semeru di Jawa Timur, serta menjadi yang tertinggi keempat di Jawa.

Gunung Raung kaldera kering juga merupakan kaldera terbesar di Jawa dan terbesar kedua di Indonesia setelah Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat. Ada empat titik puncak, yaitu Flag Puncak, Puncak 17 Puncak Tusuk gigi, dan, yang tertinggi, True Puncak (3344 m).

Dilihat dari vegetasi, Gunung Raung memunyai Dipterokarp Bukit hutan, hutan Dipterokarp Atas Montane hutan, dan hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Sejarah Letusan

Letusan Gunung Raung strombolian-jenis letusan, letusan pijar kecil tapi terus-menerus memancarkan. Gunung Raung juga memiliki sistem terbuka kawah, menyebabkan lava yang dihasilkan akan kembali ke kawah, dan kurang cenderung meluap keluar dari kaldera.

Sejarang Gunung Raung

Sejarang Gunung Raung

Tahun 1586

Pada 1586 Catatan paling awal dari letusan Gunung Raung. Ada 20 catatan gemuruh letusan yang terjadi antara tahun 1593-1903, letusan tahun 1593, 1597, 1638, 1730, sekitar 1804, 1812-1814, sekitar 1815, 1817, 1838, 1849, 1859, 1860, 1864, 1881 1885 1890, 1896, 1897, 1902 dan 1903.

Ada 6 catatan gemuruh letusan yang terjadi antara tahun 1915-1924, letusan tahun 1915, 1916, 1917, 1921, 1924 dan 1924. Foto letusan menggelegar pada tahun 1927 diambil dari Kalibaru dan Glenmore.

Ada 31 catatan gemuruh letusan yang terjadi antara tahun 1928-1999, letusan tahun 1928, 1929, 1933, 1936, 1937, 1938-1939, 1940, 1941, 1943, 1944-1945, 1953, 1955, 1956, 1971, 1973, 1974 1975, 1976, 1977, 1978, 1982, 1985, 1987-1989, 1990, 1991, 1993, 1994, 1995, 1995 (?), 1997, dan 1999.

Letusan 2015

Laporan pada peningkatan aktivitas diberikan pada tanggal 21 Juni 2015. 8 satelit NASA Landsat untuk mendeteksi keberadaan dua lubang magma yang tidak diharapkan menjadi letusan besar. Bahan pijar mulai menyembur pada tanggal 26 Juni 2015 dan serangkaian letusan telah terjadi sejak 4 Juli 2015. Karena lubang yang terletak di magma di dalam kawah, semburan material pijar tidak keluar dari kawah. Namun, daerah sekitar Gunung mengaum bottom ash dan merasa tremor.

Rangkaian letusan jelas berlanjut di hari-hari berikutnya yang mulai mengganggu transportasi udara. Mulai pada tanggal 10 Juli 2015, karena penerbitan pemberitahuan ke penerbang terbang pengatur udara (Kementerian Perhubungan Republik Indonesia), lima bandara ditutup dan tidak melayani penerbangan rutin.

Lima dari bandara adalah Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali; Bandara Internasional Lombok; Bandara Selaparang, Lombok; Bandara Blimbingsari, Banyuwangi; dan layanan Notohadinegoro, Jember. Pada tanggal 16 Juli, 2015, tiga bandara utama, yaitu Bandara Internasional Jawa Timur Juanda, Sidoarjo; Abdul Rachman Saleh, Malang; serta layanan Trunojoyo, Sumenep juga ditutup.

Pada hari-hari berikutnya, tidak menjaga bandara ditutup untuk sementara dan kemudian dibuka kembali. Bandara paling terpengaruh adalah Notohadinegoro Bandara (Jember) dan Bandar Udara Blimbingsari (Banyuwangi). Sampai 5 Agustus 2015, Bandar Udara Blimbingsari adalah satu-satunya bandara yang masih tertutup.

Demikian Penjelasan Tentang Sejarah Gunung Raung Banyuwangi Dari Tahun 1586 – 2015 Semoga Bermanfaat Untuk Pembaca Setia GuruPendidikan.Com 😀

Most popular articles related to Sejarah Gunung Raung Banyuwangi Dari Tahun 1586 – 2015
Shares