Pengertian BPR dan BPI Dalam Proses Bisnis Terlengkap

parta setiawan

Pengertian BPR

 

Pengertian BPR Dan BPI Dalam Proses Bisnis Terlengkap – Dalam Proses Bisnis terdapat  kategori perbaikan yaitu Rekayasa ulang proses bisnis atau Business Process Reengineering (BPR) dan Perbaikan proses bisnis atau Business process improvement (BPI)

Pemodelan Proses Bisnis

Pemodelan Proses Bisnis

Pemikiran Dasar Melakukan Perbaikan.

  • Dilaksanakan untuk memberikan nilai tambah
  • dilakukan dengan cara meng- eliminasi dan mereduksi pemborosan

Dengan Tujuan dilakukannya Perbaikan adalah : dapat menjamin bahwa organisasi atau perusahaan memiliki proses bisnis yang semestinya.

Dampak yang diharapkan dilakukannya perbaikan, yaitu;

  1. Dapat Mengurangi Penundaan(Delay)
  2. Dapat Mengurangi Error
  3. Dapat Memaksimalkan Pemanfaatan
  4. Dapat Mudah Digunakan
  5. Mendapatkan Kepuasan Pelanggan (Customer Frendly)
  6. Dapat Dengan Mudah Beradapatasi , serta
  7. Dapat Bersaing keunggulan.

Rekayasa ulang proses bisnis atau Business Process Reengineering (BPR) merupakan pemikiran kembali atau ulang secara fundamental serta perancangan kembali pada proses bisnis secara radikal, dihasilkan dari sumber daya yang tersedia pada organisasi.
BPR menggunakan pendekatan untuk perancangan kembali atau ulang cara kerja dalam mendukung misi organisasi dan mengurangi biaya. Perancangan ulang dimulai dengan penaksiran level tinggi terhadap misi organisasi, tujuan strategis, serta kebutuhan pelanggan.
Business Process Reengineering dikenal juga dengan Business Process Redesign (Perancangan Ulang Proses Bisnis), Business Transformation, atau Business Process Change Management.

Untuk mencapai peningkatan yang maksimal dengan Business Process Reengineering, perubahan pada stuktur organisasi dan cara lain seperti pengelolaan serta pelaksanaan kerja saja dianggap belum cukup. karna supaya mendapatkan keuntungan secara penuh, penggunaan Teknologi Informasi dianggap penting sebagai faktor kontributor utama.

Walau Teknologi Imformasi secara tradisional digunakan untuk mendukung fungsi bisnis yang tersedia, iyalah meningkatkan keefisienan organisasi, sekarang Teknolgi Imformasi difungsikan sebagai pendukung bentuk-bentuk organisasi yang baru dan pola-pola kolaborasi dalam dan antara organisasi.

Beberapa pengertian Tentang Business Process Reengineering yaitu:

www.gurupendidikan.com/“Business Process Reengineering is the fundamental rethinking and radical redesign of business processes to achieve dramatic improvements in critical contemporary measures of performance, such as cost, quality, service, and speed.”
artinya pemikiran ulang fundamental dan disain ulang radikal suatu proses bisnis untuk mencapai perbaikan dramatis dalam langkah-langkah kontemporer kritis kinerja, seperti biaya, kualitas, pelayanan, dan kecepatan. ”

“Business Process Reengineering adalah pemikiran ulang fundamental dan perancangan radikal terhadap proses-proses bisnis untuk mencapai perbaikan secara dramatis dalam ukuran kritis terhadap kinerja seperti biaya, kualitas, jasa dan kecepatan.”

“Business Process Reengineering is encompasses the envisioning of new work strategies, the actual process design activity, and the implementation of the change in all its complex technological, human, and organizational dimensions.”
artinya meliputi Envisioning strategi kerja baru, aktivitas proses desain yang sebenarnya, dan pelaksanaan perubahan dalam semua kompleks teknologi, manusia, dan dimensi organisasi. ”

“Business Process Reengineering mencakup perencanaan strategi kerja baru, aktivitas perancangan proses yang aktual dan implementasi perubahan dalam semua dimensi teknologi, manusia dan organisasi yang kompleks.

BPR memperoleh fondasinya dari berbagai disiplin ilmu, dan ada 4 bagian penting yang diidentifikasi untuk diubah dalam BPR – yaitu;
Organisasi.
Teknologi.
Strategi.
Manusia.
(organization, technology, strategy, and people) – dimana pada sebuah proses digunakan sebagai kerangka kerja (framework) untuk memperhitungkan dimensi-dimensi itu.

Peran Teknologi Informasi dalam Rekayasa Ulang atau Business Process Reengineering iyalah ;

1.Basis data yang dibagi-bagikan (shared databases), membuat informasi tersedia pada banyak tempat.
2.Sistem ahli (expert systems) memungkinkan para generalis untuk melaksanakan tugas spesialis.
3.Jaringan telekomunikasi (telecommunication networks), memungkinkan organisasi dapat disentralisasikan dan didesentralisasikan dalam waktu yang sama
4.Perlengkapan pengambilan keputusan (decision-support tools), memungkinkan pengambilan keputusan menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
5.Videodisk interaktif (interactive videodisk), untuk mendapatkan kontak langsung dengan pembeli potensial.
6.Identifikasi otomatis dan pelacakang (automatic identification and tracking), memungkinkan sesuatu untuk melaporkan dimana mereka berada bukan menunggu untuk ditemukan.
Perhitungan kinerja tinggi (high performance computing), memungkinkan perencanaan on-the-fly (diciptakan pada saat dibutuhkan) dan perbaikan.

PENGERTIAN BPI

Perbaikan proses bisnis atau Business process improvement (BPI) merupakan pendekatan secara sistematis untuk membantu organisasi mengoptimalkan proses yang mendasar untuk mencapai hasil yang lebih efisien.

Metodologi ini pertama kali didokumentasikan pada tahun 1991 yang dituliskan pada buku Perbaikan Proses Bisnis H. James Harrington, yaitu metodologi yang baik Proses Perancangan dan Business Process Reengineering didasarkan pada Business process improvement(BPI).

pelaksanaan(implementation)

Kebanyakan resistensi pada BPI berasal dari dalam sebuah organisasi. Manajer sering tidak ingin mengubah struktur yang ada dikarenakan mereka merasa terancam oleh perubahan organisasi atau kekuasaan mereka. Angkatan kerja mungkin menolak BPI karena takut terkena PHK.

Beberapa organisasi telah menerapkan BPI pada skala yang lebih kecil dan melaporkan keberhasilan, dengan melakukan hal berikut:

Mulailah dengan proses kecil yang dapat diselesaikan dalam jangka waktu yang juga singkat.
dapat Mengatur jadwal yang jelas.
Jangan menyebarkan sumber daya yang tipis dan fokus pada hasil jangka pendek.
Manajemen dan pemangku kepentingan utama harus terlibat, atau bahkan pelaksanaan yang terbatas akan gagal.

Perbaikan proses dan manajemen(Process improvement and management)

Perbaikan proses dan manajemen iyalah Mengidentifikasi, menganalisis dan meningkatkan Proses Key(Key Processes).
Untuk dapat membuat perubahan yang diperlukan dalam suatu organisasi, kita hanya perlu memahami proses utama perusahaan. Rummler dan Brache menyarankan model untuk menjalankan Perbaikan dan Manajemen Proses proyek (PI & M), yang berisi pada langkah-langkah berikut ini:

Mengidentifikasi proses ditingkatkan (berdasarkan masalah bisnis penting): Identifikasi proses kunci dapat menjadi latihan formal maupun informal. Tim manajemen mungkin memilih proses dengan menerapkan seperangkat kriteria yang berasal dari prioritas strategis dan taktis, atau proses seleksi didasarkan pada kesenjangan kinerja yang jelas. Hal ini penting untuk memilih proses-proses yang memiliki dampak terbesar pada keuntungan atau kebutuhan pelanggan(customer) yang kompetitif.

Mengembangkan tujuan untuk proyek berdasarkan persyaratan proses: Fokus mungkin pada peningkatan kualitas, produktivitas, biaya, layanan pelanggan atau waktu siklus.

Tujuannya adalah namun selalu sama; untuk mendapatkan proses kunci di bawah kontrol.

Pilih anggota tim lintas-fungsional: A horizontal (cross-functional) analisis dilakukan oleh tim yang terdiri dari perwakilan dari semua fungsi dan yang terlibat dalam proses.

Mendokumentasikan proses saat ini dengan menciptakan flowchart atau “peta organisasi.”: Jelaskan proses mengenai tingkat Organisasi, tingkat Proses dan Kerja / tingkat Performer menurut Rummler Mengembangkan proses peta lintas-fungsional untuk proses.

Mengidentifikasi “terputus” dalam proses: “Terputus” adalah segala sesuatu yang menghambat efisiensi dan efektivitas proses.

Identifikasi harus dikategorikan ke dalam tiga tingkatan: Tingkat Organisasi, tingkat Proses dan Kerja / tingkat Performer.

Merekomendasikan perubahan (organisasi, dalam proses atau dalam pelaksanaannya): Kategorisasi dan memprioritaskan masalah utama dan kemungkinan, mengevaluasi solusi alternatif. Mengembangkan peta proses lintas fungsional untuk proses direkomendasikan.

Menetapkan proses dan sub-proses langkah: Langkah-langkah proses harus mencerminkan tujuan proyek.
Menerapkan perbaikan.

 

Demikian Penjelasan tentang Pengertian BPR dan BPI Dalam Proses Bisnis Terlengkap Semoga Dapat Bermanfaat Bagi Para Pembaca Gurupendidikan.com 🙂

Most popular articles related to Pengertian BPR dan BPI Dalam Proses Bisnis Terlengkap
Shares