Efektivitas Organisasi
Efektivitas Organisasi

Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Organisasi

Posted on

Efektivitas Organisasi

Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Organisasi – Efektivitas organisasi dipengaruhi oleh 4(empat) faktor di dalam budaya organisasi yakni keterlibatan (Involvement), adapatasi (Adadptation), Misi (Mision) , dan konsistensi (consistency).

Efektivitas Organisasi
Efektivitas Organisasi

Keterlibatan (involvement)

Keterlibatan ialah suatu perlakuan yang membuat staf merasa diikut sertakan didalam kegiatan organisasi sehingga dapat membuat staf bertanggung jawab mengenai tindakan yang dilakukannya (Casida, 2007). Keterlibatan (involvement) ialah kebebasan (independensi) yang dipunyai pada setiap individu didalam mengemukakan pendapat. Keterlibatan tersebut perlu juga dihargai oleh kelompok maupun pimpinan suatu organisasi sepanjang menyangkut ide untuk dapat memajukan dan juga mengembangkan organisasi atau perusahaan.
Keterlibatan terdiri dari 3(tiga) indikator yakni pemberdayaan (Empowerment), kerja tim (Team Orientation) dan juga kemampuan berkembang (Capability Development) (Casida, 2007).

  • Pemberdayaan (empowerment)
    Pemberdayaan (empowerment) ialah proses yang memungkinkan staf untuk dapat memiliki input serta kontrol atas pekerjaan mereka, dan juga kemampuan untuk secara terbuka berbagi saran serta ide tentang pekerjaan mereka. Pemberdayaan akan dapat membuat staf memiliki kekuasan untuk dapat mampu membuat pilihan dan juga berpartisipasi pada tingkat yang lebih bertanggung jawab yang pada akhirnya akan dapat menimbulkan perasaan bahagia pada diri staf tersebut dan juga mengakibatkan staf akan dapat berpikiran positif terhadap lingkungannya.

  • Kerja tim (team orientation)
    Kerja tim (Team Orientation) tersebut akan menunjukkan efektifnya kerja secara tim didalam memberikan kontribusi pada suatu organisasi yang mana proses di dalam kerja tim ialah usaha untuk dapat memecahkan suatu masalah dan juga meningkatkan inovasi anggotanya.

  • Kemampuan berkembang (capability development)
    Kemampuan berkembang (Capability Development) ialah kemampuan pada suatu organisasi untuk dapat meningkatkan kemampuan stafnya sehingga dapat ataupun mampu berkompetisi serta juga untuk mencapai tujuan organisasi.

Adapatasi (Adadptation)

Kemampuan adaptasi adalah kemampuan pada organisasi untuk dapat menerjemahkan pengaruh lingkungan terhadap organisasi. Adaptasi ialah kemampuan organisasi didalam merespon perubahan-perubahan lingkungan eksternal dengan cara melakukan perubahan internal pada suatu organisasi. Denison dan juga Mirsha (1995) dalam Casida (2007) tersebut menggemukakan yakni kemampuan adaptasi dapat dilihat dari 3(tiga) indikator yakni perubahan (Creating Change), berfokus pada pasien (Customer Focus) dan juga keadaan organisasi (Organizational Learning).

  • Perubahan (creating change)
    Perubahan (Creating Change) ialah kemampuan pada organisasi untuk dapat melakukan pembaharuan, dan juga mampu mengikuti perkembangan serta bereaksi dengan cepat terhadap tren serta mengantisipasi dampak dari pembaharuan tersebut.

  • Berfokus pelanggan (costumer focus)
    Berfokus pada pasien (Customer Focus) ialah kemampuan pada organisasi untuk dapat mampu memberikan perhatian kepada kepuasan pelanggan.

  • Keadaan organisasi (organizational learning)
    Keadaan organisasi (Organizational Learning) ialah proses yang mendukung suatu organisasi untuk dapat mampu beradaptasi terhadap perubahan, dan juga mampu untuk bertumbuh ke arah yang lebih baik dengan melalui penciptaaan serta pengaplikasian hal-hal baru seperti knowledge, kemampuan serta kompetensi sekaligus juga mampu untuk mentransformasikannya kepada anggota lainnya. Keadaan organisasi ialah kemampuan pada organisasi untuk menerima, menerjemahkan, dan juga menginterpretasi dari lingkungan eksternal menjadi suatu usaha untuk dapat mendorong inovasi, memperoleh pengetahuan serta meningkatkan pengetahuan.

Misi (Mission)

Misi ialah dimensi budaya yang menunjukkan pada tujuan inti organisasi yang menjadikan anggota organisasi teguh serta fokus terhadap apa yang dianggap penting oleh suatu organisasi. Sesuai dengan penelitian Denison (2006) yang menunjukkan bahwa organisasi yang kurang didalam menerapkan misi akan dapat mengakibatkan staf tidak dapat mengerti hasil yang akan dicapai dan juga tujuan jangka panjang yang ditetapkan menjadi tidak jelas.
Denison dan Mirsha (1995) menyatakan ialah bahwa kemampuan adaptasi dapat dilihat dari 3(tiga) indikator yakni strategi yang terarah serta tetap (Strategic Direction and Intent), Tujuan dan juga objektivitas (Goals and Objectif), Visi (Vision) .

  • Strategi yang terarah dan juga tetap (strategic direction and intent)
    Strategi yang terarah dan juga tetap (Strategic Direction and Intent) ialah rencana yang jelas tentang tujuan organisasi dan juga membuat anggota organisasi dapat memahami kontribusi serta fungsi mereka di dalam suatu organisasi. Manager tingkat pertama yang secara umum akan lebih dilibatkan dalam penetapan suatu strategi. Strategi adalah elemen terpenting yang memberikan penjelasan mengenai cara-cara untuk dapat melaksanakan suatu tindakan

  • Tujuan dan objektivitas (goals and objectivity)
    Tujuan dan jufa objektivitas (Goals and Objectivity) ialah hasil yang diinginkan dengan melalui usaha yang terarah dapat diukur, ambisius tetapi harus tetap realistis. Tujuan dan juga objektivitas adalah kumpulan sasaran yang dikaitkan dengan misi, visi, dan juga strategi dan juga mampu memberikan arahan yang jelas bagi staf dalam bertindak.

  • Visi (vision)
    Visi (Vision) ialah pandangan bersama mengenai tujuan yang akan dicapai pada suatu organisasi yang terdiri dari nilai-nilai dan juga pemikiran bersama yang mampu untuk memberikan arahan bagi anggota organisasi. Visi adalah rangkaian kalimat yang menyatakan cita-cita maupun impian suatu organisasi atau juga perusahaan yang ingin dicapai di masa depan atau juga dapat dikatakan bahwa visi adalah pernyataan “apa yang diinginkan”dari organisasi ataupun perusahaan. Visi juga ialah hal yang sangat krusial bagi suatu perusahaan untuk dapat menjamin kelestarian dan juga kesuksesan jangka panjang.

Konsistensi (Consistency)

Konsistensi (Consistency) ialah tingkat kesepakatan anggota suatu organisasi terhadap asumsi dasar dan juga nilai-nilai inti organisasi. Konsistensi dalam menekankan pada sistem keyakinan-keyakinan, nilai-nilai, dan juga simbol-simbol yang dimengerti serta dianut bersama oleh para anggota organisasi dan juga pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang terkoordinasi. Adanya konsistensi dalam suatu organisasi akan ditandai oleh staf merasa terikat; terdapat nilai-nilai kunci; kejelasan mengenai tindakan yang dapat dilakukan dan juga tidak dapat dilakukan. Konsistensi didalam organisasi adalah dimensi yang menjaga kekuatan serta juga stabilitas di dalam organisasi. Denison dan Mirsha (1995) menyatakan bahwa konsistensi dapat dilihat dari 3(tiga) indikator yakni nilai inti (core value), kesepakatan (Agreement), koordinasi dan juga integrasi (Coordination and Integration).

  • Nilai inti (core value)
    Nilai inti (core value) ialah pedoman atau kepercayaan permanen tentang sesuatu tepat dan juga tidak tepat yang mengarahkan tindakan serta juga perilaku staf dalam mencapai tujuan suatu organisasi.

  • Kesepakatan (agreement)
    Kesepakatan (Agreement) ialah suatu proses ketika staf di dalam organisasi dapat mencapai kesamaan pendapat mengenai masalah-masalah yang terjadi ataupun suatu hal yag mendasari dan juga mampu menyelesaikan perbedaan pendapat yang terjadi di dalam suatu organisasi.

  • Koordinasi dan integrasi (coordination and integration)
    Koordinasi dan integrasi (Coordination and Integration) ialah berbagai fungsi serta unit di dalam organisasi yang bekerja sama untuk dapat mencapai tujuan organisasi tanpa harus mengganggu hak masing-masing. Koordinasi dan juga integrasi sangat bermanfaat untuk dapat meningkatkan efisiensi, kualitas, serta juga pelayanan yang diberikan kepada publik.

Demikian Penjelasan tentang Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Organisasi Semoga Dapat Bermanfaat Bagi Para Pembaca Gurupendidikan.com 🙂