“Angling Dharma” Sejarah & ( Kelahiran – Pernikahan – Masa Hukuman )

Posted on

“Angling Dharma” Sejarah & ( Kelahiran – Pernikahan – Masa Hukuman )

GuruPendidikan.Com – Anglingdarma ialah keturunan ketujuh dari hidayat, yang dimana seorang tokoh utama dalam kisah Mahabhrata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisaha mahabrata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.

Yang dikisahkan bahwa Arjuna berputra Abimayu, Abimanyu berputra Parikesit, Parikesit berputra Yudayana, Yudayana berputra Gendrayana, Gendrayana berputra Jayabaya, Jayabaya memiliki putri yang bernama Premesti dan dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Anglingdarma.

Kelahiran

Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta nama kerjaan diganti nama kerajaan diganti dari Hastina menjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalah pahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili gendrayana, sebagai hukuman Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.

Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang, ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahan kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.

Antara Yawstina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut, atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai yakni melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti putri Jayabaya.

Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya, ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh, ia pun mengusri istrinya itu pulang ke Mamenang.

Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur, kutukan tersebut menjadi kenyataan, Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina. Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberni nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya saudara Pramesti.

Pernikahan Anglingdarma

Setelah dewasa Anglingdarma membawa ibunya pindah ke sebuah negeri yang dibangunnya, bernama Malawapati, disana ia memerintah dengan bergelar Prabu Anglingdarma atau Prabu Ajidarma. Anglingdarma sangat gemar berburu, pada suatu hari ia menolong seortang gadis bernama Setyawati yang dikejar harimau. Setyawati lalu diantarkannya pulang ke rumah ayahnya, seorang pertapa bernama Resi Maniksutra, tidak hanya itu Anglingdarma juga melamar Setyawati sebagai istrinya.

Kakak Setyawati yang bernama Batikmadrin telah bersumpah barangsiapa ingin menikahi adiknya harus dapat mengalahkannya, maka terjadilah pertandingan yang dimenangkan oleh Anglingdarma. Sejak saat itu Setyawati menjadi permaisuri Anglingdarma sedangkan Batikmadrin diangkat sebagai maha patih di Kerajaan Malawapati.

Pada suatu hari ketika sedang berburu Anglingdarma memergoki istri gurunya yang bernama Nagagini sedang berselingkuh dengan seekor ular tampar, Anglingdarma pun membunuh ular jantan sedangkan Nagagini pulang dalam keadaan terluka.

Nagagini kemudian menyusun laporan palsu kepada suaminya yakni Nagaraja agar membalas dendam kepada Anglingdarma. Nagaraja pun menyusup ke dalam istana Malawapati dan menyaksikan Anglingdarma sedang membicarakan perselingkuhan Nagagini kepada Setyawati. Nagaraja pun sadar bahwa istrinya yang salah, ia pun muncul dan meminta maaf kepada Anglingdarma.

Nagaraja mengaku ingin mencapai moksa, ia kemudian mewariskan ilmu kesaktiannya berupa Aji Gineng kepada Anglingdarma, ilmu tersebut harus dijaga dengan baik dan penuh rahasia, setelah mewariskan ilmu tersebut Nagaraja pun wafat.

Sejak mewarisi ilmu baru, Anglingdarma menjadi paham bahasa binatang, pernah ia tertawa menyaksikan percakapan sepasang cicak. Hal itu membuat Setyawati tersinggung. Anglingdarma menolah berterus terang karena terlanjur berjanji akan merahasiakan Aji Gineng, membuat Setyawati bertambah marah. Setyawati pun memilih Pati Obong yakni bunuh diri dalam api untuk mengembalikan harga dirinya. Anglingdarma berjanji lebih menemani Setyawati mati, dari pada harus membocorkan rahasia ilmunya.

Yang ketika upacara pembakaran diri digelar pada tanggal 14 bulan purnama, Anglingdarma sempat mendengar percakapan sepasang kambing, dari percakapan itu Anglingdarma sadar kalau keputusannya menemani Setyawati mati ialah keputusan emosional yang justru merugikan rakyat banyak. Maka ketika Setyawati terjun ke dalam kobaran api, Anglingdarma tidak menyertainya.

Masa Hukuman

Perbuatan Anglingdarma yang mengingkari janji sehidup semati dengan Setyawati membuat dirinya harus menjalani hukuman buang sampai batas waktu tertentu sebagai penebus dosa. Kerajaan Malawapati pun dititipkannya kepada Batikmadrin.

Dalam perjalanannya Anglingdarma bertemu dengan tiga orang putri bernama Widata. Widati, dan Widaningsih. Ketiganya jatuh cinta kepada Anglingdarma dan menahannya untuk tidak pergi. Anglingdarma menurut sekaligus curiga karena ketiga putri tersebut suka pergi malam hari secara diam-diam.

Anglingdarma menyamar sebagai burung gagak untuk menyelidiki kegiatan rahasia ketiga putri tersebut, ternyata setiap malam ketiganya berpesta makan daging manusia. Anglingdarma pun berselisih dengan mereka mengenai hal itu, akhirnya ketiga putri mengutuknya menjadi seekor belibis putih.

Belibis putih tersebut terbang sampai ke wilayah Kerajaan Bojanagara. Disana ia dipelihara seorang pemuda desan bernama Jaka Geduk, pada saat itu Darmawangsa raja Bojanagara sedang bingung menghadapi pengadilan di mana seorang wanita bernama Bermani mendapati suaminya yang bernama Bermana berjumlah dua orang.

Atas petunjuk belibis putih, Jaka Geduk berhasil membongkar Bermana palsu kembali ke wujud aslinya yakni Jin Wiratsangka, atas keberhasilannya itu maka Jaka Geduk diangkat sebagai hakim negara, sedangkan belibis putih diminta sebagai peliharaan Ambarawati, putri Darmawangsa.

Anglingdarma Kembali Ke Malawapati

Anglingdarma yang telah berwujud belibis putih bisa berubah ke wujud manusia pada malam hari saja. Setiap malam ia menemui Ambarawati dalam wujud manusia, mereka akhirnya menikah tanpa izin orang tua, dari perkawinan itu Ambarawati pun mengandung.

Darmawangsa heran dan bingung mendapati putrinya mengandung tanpa suami, kebetulan saat itu muncul seorang pertapa bernama Resi Yogiswara yang mengaku siap menemukan ayah dari janin yang dikandung Ambarawati.

Yogiswara kemudian menyerang belibis putih peliharaan Ambarawati, setelah melalui pertarungan seru, belibis putih kembali ke wujud Anglingdarma sedangkan Yogiswara berubah menjadi Batikmadrin. Kedatangan Batikmadrin ialah untuk menjemput Anglingdarma yang sudah habis masa hukumannya.

Anglingdarma kemudian membawa Ambarawati pindah ke Malawapati dari perkawinan kedua itu lahir seorang putra bernama Anglingkusuma yang setelah dewasa menggantikan kakeknya menjadi raja di Kerajaan Bojanagara iya pun memiliki musuh yang bernama durgandini dan sudawirat. Pada suatu saat kerajaan Anglingdarma berjaya dan mampu menaklukan musuh-musuhnya dan saat itu sudawirat terbuka hatinya untuk mengabdi kepada Kerajaan yang dipimpin oleh Prabu Anglingdarma.

Demikianlah pembahasan mengenai “Angling Dharma” Sejarah & ( Kelahiran – Pernikahan – Masa Hukuman ) semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂

Baca Juga: